BONTANG — Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia (Pobsi) Kota Bontang resmi memiliki ketua baru. Imam Ahmad Riskan terpilih menakhodai kepengurusan terbaru dengan membawa misi pembenahan organisasi, peningkatan pembinaan atlet, serta target ambisius meraih juara umum tingkat Kalimantan Timur hingga menembus prestasi nasional.
Imam Ahmad Riskan mengatakan pencalonannya sebagai ketua tidak lepas dari dorongan komunitas dan dukungan pengurus sebelumnya. Ia mengaku diminta langsung oleh para pegiat biliar di Bontang untuk maju memperbaiki organisasi yang sempat dilanda persoalan tata kelola.
“Saya terpilih atas permintaan teman-teman biliar dan juga dukungan pembina sebelumnya. Kepengurusan lalu memang bermasalah, banyak kejanggalan. Karena didukung dan disupport, saya siap maju,” kata Imam Ahmad Riskan.
Dalam tahun pertama kepemimpinannya, ia memasang target awal mengangkat peringkat Pobsi Bontang di level provinsi. Saat ini, posisi Bontang berada di peringkat enam dari sepuluh kabupaten/kota di Kalimantan Timur.
“Target awal kami tetap ingin jadi peringkat satu di Kaltim. Minimal juara umum di ajang kejuaraan provinsi pada November nanti. Target berikutnya tentu bisa tembus prestasi nasional dan membanggakan Kota Bontang,” ujarnya.
Menanggapi polemik sebelumnya terkait pembinaan dan transparansi anggaran, Imam menegaskan perbaikan tata kelola menjadi prioritas utama. Menurut dia, kunci organisasi olahraga yang sehat terletak pada penggunaan anggaran yang benar dan tidak berorientasi kepentingan pribadi.
“Kalau anggaran digunakan dengan baik dan benar, tidak mementingkan pribadi, saya rasa organisasi akan berjalan baik. Jangan menjadikan organisasi olahraga sebagai tempat mencari uang,” kata dia.
Ia juga memastikan pembinaan atlet akan diperkuat melalui kolaborasi dengan pembina, pengurus, serta dukungan pemangku kepentingan di daerah.
Untuk memperluas pembinaan, Pobsi Bontang berencana menggelar program latihan bergilir di rumah-rumah biliar yang ada di kota tersebut. Skema ini akan dijalankan secara kolaboratif agar atlet mendapat jam terbang yang merata
“Kami akan kerja sama dengan rumah biliar, latihan digilir tiap minggu. Ke depan kami ingin ada sekolah biliar untuk mencetak atlet pelajar dan regenerasi,” ujar Imam.
Selain itu, pengurus juga merencanakan agenda fun game dan turnamen silaturahmi setiap tiga bulan untuk meningkatkan minat pelajar terhadap olahraga biliar.
Pembina Pobsi Bontang, Firman, menekankan pentingnya mengubah persepsi masyarakat terhadap olahraga biliar. Selama ini, kata dia, biliar kerap disalahartikan sebagai hiburan malam, padahal merupakan olahraga yang menuntut konsentrasi dan strategi.
“Biliar itu tempat hiburan olahraga dan berpikir, bukan hiburan malam seperti di klub. Ini yang harus kita sampaikan ke masyarakat,” kata Firman.
Ia mendukung rencana pembentukan sekolah biliar sebagai langkah strategis regenerasi atlet. Menurutnya, pembinaan usia muda menjadi kunci mencetak atlet berprestasi jangka panjang.
“Kita harus menciptakan regenerasi. Atlet muda yang terampil dan berkarakter akan membawa nama baik Bontang,” ujarnya.
Ketua III Pobsi Kalimantan Timur, David Lim Hajad Pura, menilai kepengurusan baru menjadi momentum konsolidasi komunitas biliar di Bontang. Ia melihat dukungan rumah-rumah biliar dalam musyawarah kota menjadi sinyal positif persatuan.
“Dengan muskot dan dukungan seluruh rumah biliar, artinya komunitas sudah bersatu dan berharap lebih maju. Pengprov berharap kepengurusan baru bisa membawa perubahan,” kata David.
Ia menyebut posisi Bontang saat ini berada di kategori menengah dalam peringkat provinsi, namun memiliki peluang besar untuk naik menjadi daerah unggulan.
“Potensi Bontang sangat besar. Atletnya tidak kalah dengan daerah lain seperti Samarinda dan Balikpapan. Kalau dibina serius, bisa setara bahkan melampaui,” ujarnya.
Pengprov Pobsi Kaltim, lanjut David, berkomitmen mengawal dan membantu pembinaan di seluruh daerah tanpa pengecualian, termasuk Bontang, agar mampu bersaing dan meraih prestasi lebih tinggi di tingkat provinsi maupun nasional.
