BONTANG – Pemerintah Kota Bontang melalui Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) terus mendorong edukasi ketahanan pangan kepada pelajar dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sarana pembelajaran.
Program tersebut diperkenalkan kepada siswa melalui kegiatan praktik menanam berbagai kebutuhan pangan, seperti sayuran dan cabai, di area sekolah.
Agus Haris mengatakan, kegiatan itu menjadi langkah penting dalam memberikan pemahaman kepada generasi muda mengenai pentingnya ketahanan pangan sejak dini.
“Hari ini anak-anak sekolah mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian Kota Bontang. Mereka diajarkan bagaimana memanfaatkan lingkungan sekolah,” ujarnya, Kamis (7/5/2026).
Menurutnya, ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan beras atau sawah, tetapi juga mencakup kebutuhan pokok rumah tangga lainnya, seperti cabai dan sayuran.
“Pangan itu bukan hanya beras dan sawah, tetapi juga kebutuhan dapur seperti cabai dan sayuran. Semua itu bagian dari ketahanan pangan yang harus dipahami bersama,” katanya.
Ia menjelaskan, program tersebut merupakan tindak lanjut arahan pemerintah pusat dalam menjaga keberlangsungan pangan masyarakat. Karena itu, sekolah dipilih sebagai salah satu kelompok yang dinilai efektif untuk diberikan edukasi.
“Sekolah menjadi salah satu kelompok masyarakat yang besar dan sangat potensial untuk diberikan edukasi baru terkait ketahanan pangan,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala DKP3 Bontang, Ahmad Aznem menyampaikan program tersebut juga bertujuan menanamkan rasa cinta dan empati siswa terhadap petani, peternak, dan nelayan melalui praktik langsung di lapangan.
“Kita mengajak anak-anak supaya cinta terhadap petani. Kalau mereka paham prosesnya, mereka tidak akan boros pangan karena tahu perjuangan menghasilkan makanan,” ujarnya.
Dalam kegiatan itu, siswa tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga praktik menanam, merawat tanaman hingga panen. Setelah panen, hasil tanaman nantinya akan dilatih untuk dipasarkan agar siswa memahami nilai ekonomi dari hasil pertanian.
“Nanti setelah panen, anak-anak kita latih menjual hasilnya. Jadi mereka tahu bahwa dari setiap polybag itu ada nilai ekonomi dan mereka bisa menghasilkan,” katanya.

