KOSAKATA.CO—-Saat ini, istilah childfree atau kesepakatan pasangan untuk tidak mempunyai anak kian ramai diperbincangkan di media sosial, sehingga memicu pro dan kontra di tengah masyarakat.
Pertanyaannya, apakah keputusan tersebut termasuk hak asasi setiap individu atau justru bertentangan dengan kodrat manusia?
Bagi Gen Z, keputusan childfree bukan sekadar tren sesaat, melainkan bentuk kesadaran diri yang matang. Di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi, biaya hidup yang terus melonjak, serta isu kesehatan mental yang makin disuarakan, memilih untuk tidak memiliki anak menjadi keputusan yang sangat realistis.
Banyak anak muda hari ini menyadari bahwa menjadi orang tua membutuhkan kesiapan finansial, emosional, dan mental yang luar biasa. Daripada memaksakan diri demi memenuhi ekspektasi sosial lalu berisiko menurunkan unhealed trauma kepada generasi berikutnya, Gen Z lebih memilih jujur pada kapasitas diri
Dari perspektif kebebasan pribadi, setiap pasangan memang memiliki hak untuk menentukan jalan hidupnya, karena tidak ada aturan yang mengharuskan mereka wajib memiliki keturunan. Berbagai alasan yang melatarbelakangi pun cukup logis, seperti faktor ekonomi, keinginan menikmati waktu berdua, pengalaman traumatis terkait pola asuh, hingga kekhawatiran terhadap masa depan dunia.
Akan tetapi, jika ditinjau dari dimensi spiritual, biologis, antropologis, dan sosiologis, manusia pada dasarnya memiliki fitrah untuk melanjutkan generasi. Anak dalam pandangan spiritual merupakan titipan Tuhan, secara biologis tubuh manusia memang diciptakan untuk bereproduksi, sementara dalam konteks budaya dan sosial, anak berperan sebagai penerus nilai keluarga dan adat, seperti yang sangat dijunjung tinggi dalam keluarga Kaili di Palu.
Oleh sebab itu, isu childfree tidak dapat dinilai secara sepihak. Menjadi orang tua adalah tanggung jawab besar yang tidak hanya soal melahirkan, tetapi juga tentang mendidik dan membesarkan. Sehingga, menunda memiliki anak karena merasa belum siap justru bisa menjadi langkah yang lebih bijak daripada memaksakan diri. Intinya, pilihan childfree patut dihargai selama didasari pertimbangan yang matang, bukan sekadar egoisme atau ikut-ikutan tren, dan harus tetap dibarengi dengan sikap toleran terhadap mereka yang memutuskan untuk memiliki anak.
