{"id":4541,"date":"2025-09-01T11:06:09","date_gmt":"2025-09-01T11:06:09","guid":{"rendered":"https:\/\/kosakata.co\/?p=4541"},"modified":"2025-11-11T10:14:59","modified_gmt":"2025-11-11T10:14:59","slug":"proyek-turap-rp-76-miliar-di-jalan-kh-tampubolon-gunakan-tanah-sengketa-dua-pihak-saling-klaim-legalitas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/2025\/09\/01\/proyek-turap-rp-76-miliar-di-jalan-kh-tampubolon-gunakan-tanah-sengketa-dua-pihak-saling-klaim-legalitas\/","title":{"rendered":"Proyek Turap Rp 76 Miliar di Jalan Simon Tampubolon Gunakan Tanah Sengketa, Dua Pihak Saling Klaim Legalitas"},"content":{"rendered":"<p>Kosakata.co, Bontang &#8211; Proyek pembangunan turap senilai Rp 76 miliar di Jalan KH Tampubolon, Kelurahan Tanjung Laut, terancam tersendat. Pasalnya, lahan yang digunakan dalam pekerjaan tersebut ternyata masih berstatus sengketa. Dua pihak kini saling klaim kepemilikan dengan membawa dasar hukum masing-masing.<\/p>\n<p>Pihak pertama adalah ahli waris dari almarhum H. Sinnok yang saat ini menunjuk Nur Andika sebagai kuasa pemilik lahan. Mereka menegaskan tanah tersebut sah milik keluarga H. Sinnok, berdasarkan dokumen Akta Jual Beli (AJB) tertanggal 18 Desember 1984. AJB itu menyebutkan bahwa H. Sinnok membeli tanah dari H. Hasyim Efendi dengan luas sekitar 26.600 meter persegi.<\/p>\n<p>Kepemilikan ini diperkuat dengan dokumen sebelumnya, yakni Surat Keterangan Perbatasan tertanggal 16 Mei 1981, yang memuat batas-batas lahan serta saksi perwatasan dari tokoh desa setempat.<\/p>\n<p>\u201cSemua dokumen kami jelas, ada AJB, ada saksi perbatasan, dan riwayat jual beli berjenjang dari pemilik sebelumnya,\u201d tegas Romy Subarta, Ketua Kuasa Pemilik Lahan H. Sinnok.<\/p>\n<figure id=\"attachment_4542\" aria-describedby=\"caption-attachment-4542\" style=\"width: 750px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4542 size-jnews-featured-750\" src=\"https:\/\/kosakata.co\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/5-750x564.jpg\" alt=\"\" width=\"750\" height=\"564\" srcset=\"https:\/\/kosakata.co\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/5-750x564.jpg 750w, https:\/\/kosakata.co\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/5-300x226.jpg 300w, https:\/\/kosakata.co\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/5-1024x770.jpg 1024w, https:\/\/kosakata.co\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/5-768x578.jpg 768w, https:\/\/kosakata.co\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/5-1140x858.jpg 1140w, https:\/\/kosakata.co\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/5.jpg 1280w\" sizes=\"(max-width: 750px) 100vw, 750px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-4542\" class=\"wp-caption-text\">Mediasi antara dua pihak yang bersengkata yang dilakukan oleh Kecamatan Bontang Barat.<\/figcaption><\/figure>\n<p>Sementara itu, pihak kedua yang juga mengklaim lahan tersebut adalah H. Badrun. Ia menyodorkan dokumen SPPAT tahun 2012 atas nama Irma Rosalina. Namun, pihak kuasa pemilik lahan H. Sinnok meragukan keabsahan dokumen itu karena dinilai tidak memenuhi syarat penerbitan, termasuk tidak adanya tanda tangan saksi perwatasan maupun dasar kepemilikan yang sah seperti segel atau surat pelepasan hak.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-4943 size-jnews-featured-1140\" src=\"https:\/\/kosakata.co\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/12-1-1140x1710.jpg\" alt=\"\" width=\"1140\" height=\"1710\" srcset=\"https:\/\/kosakata.co\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/12-1-1140x1710.jpg 1140w, https:\/\/kosakata.co\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/12-1-200x300.jpg 200w, https:\/\/kosakata.co\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/12-1-683x1024.jpg 683w, https:\/\/kosakata.co\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/12-1-768x1152.jpg 768w, https:\/\/kosakata.co\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/12-1-1024x1536.jpg 1024w, https:\/\/kosakata.co\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/12-1-1365x2048.jpg 1365w, https:\/\/kosakata.co\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/12-1-750x1125.jpg 750w, https:\/\/kosakata.co\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/12-1-scaled.jpg 1706w\" sizes=\"(max-width: 1140px) 100vw, 1140px\" \/><\/p>\n<p>Masalah kian pelik setelah terungkap adanya pembayaran kompensasi dari pihak kontraktor proyek. Informasi di lapangan menyebutkan nilai kompensasi mencapai Rp30\u201335 juta, yang diberikan kepada pihak terkait H. Badrun.<\/p>\n<p>\u201cIni yang kami pertanyakan. Bagaimana mungkin kompensasi diberikan sementara status tanah masih bersengketa. Kami minta kompensasi itu dikembalikan hingga ada keputusan hukum tetap,\u201d ujar Nur Andika.<\/p>\n<p>Pihak kuasa pemilik lahan menilai langkah pemerintah daerah dan OPD terkait keliru karena tidak mengonfirmasi status tanah kepada semua ahli waris. Mereka mendesak agar proses hukum dijalani secara terbuka di pengadilan.<\/p>\n<p>\u201cKami sudah sepakat membawa masalah ini ke jalur litigasi. Biar pengadilan yang memutuskan siapa pemilik sah,\u201d tambah Romy.<\/p>\n<p>Di sisi lain, proyek turap tersebut sejatinya sangat ditunggu warga karena sudah diusulkan selama lebih dari lima tahun. Namun, keberadaannya kini terancam terganjal sengketa tanah. Kuasa pemilik lahan menegaskan mereka tidak akan menghentikan proyek secara sepihak, tetapi tetap menyerahkan pada ketentuan hukum.<\/p>\n<p>\u201cKalau undang-undang menyatakan harus dihentikan, maka itu yang berlaku. Jangan sampai seolah-olah kami yang dianggap menghambat pembangunan,\u201d tegas Nur Andika.<\/p>\n<p>Hingga berita ini diterbitkan, media ini masih berupaya untuk mencari keterangan dari H Badrun atas klaim kepemilikan tanah atas dasar dokumen SPPAT tahun 2012 atas nama Irma Rosalina<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kosakata.co, Bontang &#8211; Proyek pembangunan turap senilai Rp 76 miliar di Jalan KH Tampubolon, Kelurahan Tanjung Laut, terancam tersendat. Pasalnya, lahan yang digunakan dalam pekerjaan tersebut ternyata masih berstatus sengketa. Dua pihak kini saling klaim kepemilikan dengan membawa dasar hukum masing-masing. Pihak pertama adalah ahli waris dari almarhum H. Sinnok yang saat ini menunjuk Nur [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":4543,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4,145],"tags":[],"class_list":["post-4541","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-bontang"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4541","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4541"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4541\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4957,"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4541\/revisions\/4957"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4543"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4541"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4541"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4541"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}