{"id":4812,"date":"2025-11-01T13:17:42","date_gmt":"2025-11-01T13:17:42","guid":{"rendered":"https:\/\/kosakata.co\/?p=4812"},"modified":"2025-11-11T10:05:41","modified_gmt":"2025-11-11T10:05:41","slug":"kritik-pemangkasan-dbh-dari-menkeu-purbaya-akademisi-unmul-sebut-pemerintah-pusat-egois-dan-sentralistik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/2025\/11\/01\/kritik-pemangkasan-dbh-dari-menkeu-purbaya-akademisi-unmul-sebut-pemerintah-pusat-egois-dan-sentralistik\/","title":{"rendered":"Kritik Pemangkasan DBH  dari Menkeu Purbaya, Akademisi Unmul Sebut Pemerintah Pusat Egois dan Sentralistik"},"content":{"rendered":"<p>Pemerintah pusat memangkas Dana Bagi Hasil (DBH) untuk Provinsi Kalimantan Timur hingga sekitar 77 persen, dari potensi semula Rp8,6 triliun menjadi hanya Rp1,6 triliun. Pemotongan drastis ini dinilai memperlemah kemampuan daerah dalam membiayai program strategis, termasuk sekolah gratis yang membutuhkan dana lebih dari Rp2,1 triliun tahun depan.<\/p>\n<p>Untuk itu, sistem perhitungan DBH ini dinilai tidak berpihak kepada daerah penghasil, dengan banyaknya potongan administratif dan beban pengeluaran wajib (mandatory spending) yang justru membuat daerah kehilangan porsi pendapatan yang semestinya.<\/p>\n<p>Pengamat Ekonomi Universitas Mulawarman, Purwadi Purwoharsojo, menyebut kebijakan yang diambil Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, sebagai bentuk \u201cegoisme fiskal\u201d pemerintah pusat yang mengebiri hak daerah penghasil.<\/p>\n<p>\u201cMenurut saya egois dan sentralistik, semena-mena tanpa memberikan alasan yang jelas,\u201d tegasnya, Sabtu (1\/11\/2025).<\/p>\n<p>Ia menyebut, sikap pemerintah pusat yang seolah menyalahkan rendahnya serapan anggaran daerah sebagai alasan pemangkasan DBH adalah bentuk pengalihan isu.<\/p>\n<p>Akar persoalan justru dinilainya, terletak pada tata kelola dana publik yang tidak transparan, baik di pusat maupun di daerah.<\/p>\n<p>\u201cKalau bicara daya serap, memang rendah. Tapi itu bukan alasan untuk memotong hak daerah. Justru yang harus dilakukan adalah memperbaiki sistem penyaluran dan pengawasan dana, bukan menariknya ke Jakarta,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-4917 size-full\" src=\"https:\/\/kosakata.co\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/03-1.jpg\" alt=\"\" width=\"1080\" height=\"1080\" srcset=\"https:\/\/kosakata.co\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/03-1.jpg 1080w, https:\/\/kosakata.co\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/03-1-300x300.jpg 300w, https:\/\/kosakata.co\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/03-1-1024x1024.jpg 1024w, https:\/\/kosakata.co\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/03-1-150x150.jpg 150w, https:\/\/kosakata.co\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/03-1-768x768.jpg 768w, https:\/\/kosakata.co\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/03-1-75x75.jpg 75w, https:\/\/kosakata.co\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/03-1-750x750.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 1080px) 100vw, 1080px\" \/><\/p>\n<p>Purwadi bahkan menyebut sikap Kemenkeu dan Purbaya sebagai contoh nyata sentralisasi gaya lama yang mengabaikan semangat otonomi.<\/p>\n<p>Ia menilai kebijakan fiskal Indonesia masih terjebak dalam logika kolonial, pusat menguasai sumber daya, sementara daerah hanya menadah ampas.<\/p>\n<p>\u201cKita ini seperti mencuci piring kotor setelah pesta orang pusat. Yang menikmati kemewahan adalah oligarki di Jakarta, sedangkan rakyat di Kaltim masih berhadapan dengan kemiskinan, stunting, dan jalan rusak,\u201d sindirnya.<\/p>\n<p>Ia mengingatkan, dengan dana sebesar Rp5 triliun yang kini masih \u2018ngendon\u2019 di kas daerah tanpa penjelasan pasti, publik berhak tahu di mana uang itu disimpan dan siapa yang menikmati bunganya.<\/p>\n<p>\u201cKalau Rp1 triliun saja bunganya bisa Rp60 miliar per tahun, bayangkan berapa besar nilai yang berputar tanpa kejelasan akuntabilitas. Kita minta pejabat publik dan DPRD jujur, uang itu di mana, di giro atau deposito, dan siapa yang mengendalikannya,\u201d kata Purwadi.<\/p>\n<p>Dalam pandangannya, masalah DBH tidak bisa dipisahkan dari moralitas pejabat publik daerah yang lemah dan tidak berani bersuara.<\/p>\n<p>\u201cKita ini sering kalah sebelum berperang. Belum sempat menembakkan peluru argumentasi ke pusat, kita sudah tidur duluan. Padahal rakyat butuh pembelaan nyata,\u201d ucapnya dengan nada geram.<\/p>\n<p>Ia menyoroti pula ketimpangan logis antara anggaran besar yang dikelola daerah dan capaian pembangunan yang minim.<\/p>\n<p>Daya serap APBD Kaltim yang masih di bawah 60 persen hingga akhir Oktober dianggapnya cerminan birokrasi yang lamban, tidak efisien, dan cenderung takut mengambil keputusan.<\/p>\n<p>\u201cSementara pejabatnya bergaji dan bertunjangan besar, pegawai honorer di pedalaman banyak yang belum dibayar. Itu ketidakadilan struktural,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ia menilai, jika pemerintah pusat ingin memperkuat integrasi fiskal, semestinya diawali dengan kejujuran dan keterbukaan data.<\/p>\n<p>\u201cJangan semua dikontrol dari Jakarta, seolah hanya mereka yang tahu bagaimana uang rakyat harus dibelanjakan. Kaltim, Papua, dan daerah penghasil lain harus dilibatkan penuh dalam formulasi kebijakan fiskal nasional,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Purwadi pun mendesak agar DPR RI dan kepala daerah di Kaltim bersatu menyuarakan perlawanan fiskal secara konstitusional.<\/p>\n<p>\u201cKalau perlu, setahun saja Kaltim stop setor hasil tambang ke pusat, biar mereka tahu rasanya tanpa sumbangan daerah. Faktanya, uang yang ditahan di pusat lebih banyak tidak terserap dan malah mengendap dalam sistem perbankan,\u201d tandasnya.<\/p>\n<p>Sempat menyinggung rendahnya serapan anggaran di daerah, Purwadi paparkan rincian dana pemda yang mengendap di perbankan, sebagai berikut:<\/p>\n<p>1. Provinsi Kalimantan Timur:<\/p>\n<p>Rp4.967.270.000.000\u000b2. Kabupaten Berau: Rp1.590.970.000.000\u000b3. Kabupaten Kutai Kartanegara: Rp500.500.000.000\u000b4. Kabupaten Kutai Barat:. Rp2.369.100.000.000\u000b5. Kabupaten Kutai Timur: Rp2.031.740.000.000\u000b6. Kabupaten Paser: Rp588.490.000.000\u000b7. Kota Balikpapan: Rp1.131.480.000.000\u000b8. Kota Bontang: Rp883.060.000.000\u000b9. Kota Samarinda: Rp469.980.000.000\u000b10. Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU): Rp 283.110.000.000\u000b11. Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu): Rp652.270.000.000<\/p>\n<p>Total dana mengendap di Kalimantan Timur: Rp 15.467.970.000.000. (RED).<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pemerintah pusat memangkas Dana Bagi Hasil (DBH) untuk Provinsi Kalimantan Timur hingga sekitar 77 persen, dari potensi semula Rp8,6 triliun menjadi hanya Rp1,6 triliun. Pemotongan drastis ini dinilai memperlemah kemampuan daerah dalam membiayai program strategis, termasuk sekolah gratis yang membutuhkan dana lebih dari Rp2,1 triliun tahun depan. Untuk itu, sistem perhitungan DBH ini dinilai tidak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":4813,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[10,8,5],"tags":[],"class_list":["post-4812","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-advertorial","category-ekonomi-bisnis","category-nasional"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4812","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4812"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4812\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4955,"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4812\/revisions\/4955"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4813"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4812"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4812"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4812"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}