{"id":5659,"date":"2026-05-28T14:42:19","date_gmt":"2026-05-28T14:42:19","guid":{"rendered":"https:\/\/kosakata.co\/?p=5659"},"modified":"2026-06-10T14:44:39","modified_gmt":"2026-06-10T14:44:39","slug":"kasus-kekerasan-anak-dan-perempuan-tertinggi-di-bontang-terjadi-di-loktuan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/2026\/05\/28\/kasus-kekerasan-anak-dan-perempuan-tertinggi-di-bontang-terjadi-di-loktuan\/","title":{"rendered":"Kasus Kekerasan Anak dan Perempuan Tertinggi di Bontang Terjadi di Loktuan"},"content":{"rendered":"<p>BONTANG &#8211; Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menyoroti faktor ekonomi dan kemiskinan sebagai salah satu penyebab meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Bontang sepanjang 2025.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Hal itu disampaikan dalam kegiatan Advokasi dan Penguatan Kelembagaan Kelurahan Ramah Perempuan Peduli dan Layak Anak.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Berdasarkan data yang dipaparkan, Kelurahan Loktuan menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 19 kasus yang terdiri dari 18 kasus kekerasan terhadap anak dan satu kasus kekerasan terhadap perempuan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Menurut Neni, tingginya angka tersebut menjadi sinyal perlunya perhatian dan penanganan serius dari seluruh pihak, baik pemerintah maupun masyarakat.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>\u201cKelurahan dengan angka kasus tinggi harus segera mendapat perhatian khusus. Jangan sampai kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak terus berulang,\u201d ujarnya, Kamis (28\/5\/2026).<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Ia menilai persoalan ekonomi menjadi salah satu faktor yang turut memengaruhi meningkatnya kekerasan di lingkungan keluarga dan masyarakat.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>\u201cFaktor kemiskinan dan tekanan ekonomi bisa menjadi pemicu munculnya kekerasan. Ini tentu sangat mengkhawatirkan dan harus menjadi perhatian bersama,\u201d katanya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Selain Loktuan, Kelurahan Bontang Baru dan Berbas Tengah juga mencatat angka kasus cukup tinggi dengan masing-masing 14 kasus.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Di Bontang Baru tercatat sembilan kasus kekerasan terhadap anak dan lima kasus kekerasan terhadap perempuan. Sementara di Berbas Tengah, seluruh laporan yang masuk merupakan kasus kekerasan terhadap anak.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sebaliknya, jumlah kasus paling rendah berada di Kelurahan Satimpo dan Kanaan. Satimpo mencatat dua kasus kekerasan terhadap anak tanpa kasus kekerasan terhadap perempuan, sedangkan Kanaan masing-masing mencatat satu kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Neni menegaskan pemerintah akan terus memperkuat upaya perlindungan perempuan dan anak, termasuk melalui program Kelurahan Ramah Perempuan dan Peduli Anak (KRPPA).<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>\u201cProgram ini harus diperkuat supaya lingkungan benar-benar aman dan ramah bagi perempuan maupun anak,\u201d pungkasnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Diketahui, Saat ini, dua kelurahan telah ditetapkan sebagai KRPPA, yakni Kelurahan Satimpo dan Bontang Baru.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BONTANG &#8211; Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menyoroti faktor ekonomi dan kemiskinan sebagai salah satu penyebab meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Bontang sepanjang 2025. &nbsp; Hal itu disampaikan dalam kegiatan Advokasi dan Penguatan Kelembagaan Kelurahan Ramah Perempuan Peduli dan Layak Anak. &nbsp; Berdasarkan data yang dipaparkan, Kelurahan Loktuan menjadi wilayah dengan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":5660,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[10,4,145],"tags":[],"class_list":["post-5659","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-advertorial","category-berita","category-bontang"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5659","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5659"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5659\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5661,"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5659\/revisions\/5661"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5660"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5659"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5659"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5659"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}