{"id":5896,"date":"2026-09-12T10:14:38","date_gmt":"2026-09-12T10:14:38","guid":{"rendered":"https:\/\/kosakata.co\/?p=5896"},"modified":"2026-09-12T10:14:38","modified_gmt":"2026-09-12T10:14:38","slug":"hari-jadi-ke-8-kepatihan-adat-besar-kutai-dorong-sinergi-dan-kerukunan-di-bontang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/2026\/09\/12\/hari-jadi-ke-8-kepatihan-adat-besar-kutai-dorong-sinergi-dan-kerukunan-di-bontang\/","title":{"rendered":"Hari Jadi ke-8 Kepatihan Adat Besar Kutai, Dorong Sinergi dan Kerukunan di Bontang"},"content":{"rendered":"<p>BONTANG \u2013 Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni mengajak masyarakat menjaga keseimbangan antara mempertahankan jati diri dan kemampuan beradaptasi di tengah derasnya arus modernisasi, industrialisasi, serta perubahan zaman.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Pesan tersebut disampaikan Neni dalam acara Hari Jadi ke-8 Kepatihan Adat Besar Kutai Kalimantan Timur yang digelar di Auditorium 3D, Kota Bontang, Jumat (11\/9\/2026) malam.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Neni mengatakan, perubahan zaman tidak semestinya membuat masyarakat kehilangan identitas. Menurut dia, masyarakat perlu memiliki keteguhan hati untuk menjaga nilai dan jati diri, sekaligus memiliki keberanian untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>\u201cDi tengah derasnya arus modernisasi, pesatnya industrialisasi, hingga dinamika zaman yang terus bergerak, masyarakat Kutai memberikan dua keteladanan besar,\u201d kata Neni.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Keteladanan pertama, kata dia, adalah keteguhan hati agar tidak mudah goyah menghadapi perubahan. Jati diri tetap perlu dijaga tanpa menghilangkan kemampuan untuk berkembang.<\/p>\n<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-5898\" src=\"https:\/\/kosakata.co\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Screenshot_20260912_181401_Gallery.jpg\" alt=\"\" width=\"1080\" height=\"581\" srcset=\"https:\/\/kosakata.co\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Screenshot_20260912_181401_Gallery.jpg 1080w, https:\/\/kosakata.co\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Screenshot_20260912_181401_Gallery-300x161.jpg 300w, https:\/\/kosakata.co\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Screenshot_20260912_181401_Gallery-1024x551.jpg 1024w, https:\/\/kosakata.co\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Screenshot_20260912_181401_Gallery-768x413.jpg 768w, https:\/\/kosakata.co\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Screenshot_20260912_181401_Gallery-750x403.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 1080px) 100vw, 1080px\" \/><\/p>\n<p>Sementara keteladanan kedua adalah keberanian beradaptasi. Masyarakat diharapkan mampu membuka diri, merangkul sesama, serta membangun kehidupan yang rukun dalam keberagaman.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Neni juga menekankan pentingnya nilai kearifan lokal dalam membangun kehidupan sosial di Kota Bontang. Salah satu nilai yang dinilainya penting adalah sikap saling menghormati dan memanusiakan manusia.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>\u201cMemanusiakan manusia di tanah ini, menghormati setiap jiwa yang berpijak dan berkarya,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Ia menegaskan Kota Bontang harus menjadi rumah yang nyaman bagi seluruh masyarakat. Keberagaman tidak seharusnya menjadi alasan untuk membeda-bedakan seseorang berdasarkan latar belakang maupun kelas sosial.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>\u201cKarena kearifan lokal mengajarkan kita untuk menyatukan, bukan untuk mengotak-ngotakkan martabat dan manusia ke dalam strata, kasta atau kelas sosial,\u201d kata Neni.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Menurutnya, perbedaan yang ada di Kota Bontang justru harus menjadi kekuatan dalam membangun masyarakat yang rukun, inklusif, dan harmonis.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sementara itu, Dewan Majelis Kepatihan Adat Besar Kutai Kalimantan Timur, Ir Awang Yacoub Luthman, mengatakan usia ke-8 Kepatihan diharapkan tidak sekadar menjadi momentum peringatan perjalanan organisasi.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Menurutnya, bertambahnya usia harus diikuti dengan kontribusi yang memberikan nilai tambah bagi pemerintah dan masyarakat Kota Bontang.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>\u201cDengan adanya usia yang bertambah, justru diusahakan memberikan nilai tambah juga buat Pemerintah Kota Bontang,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Awang mengatakan Kepatihan Adat Besar Kutai memiliki peran dalam menjaga kebersamaan di tengah kondisi masyarakat Bontang yang heterogen. Keberagaman tersebut, menurut dia, perlu dikelola melalui pendekatan yang tepat agar menjadi kekuatan bersama dan tidak berkembang menjadi konflik.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>\u201cTadi sudah saya sampaikan bahwa Kutai itu bukan suku, bahwa Kutai itu adalah satu bangsa,\u201d katanya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Memasuki usia ke-8, ia menilai keberadaan Kepatihan Adat Besar Kutai telah menjadi bagian dari perjalanan sosial Kota Bontang. Karena itu, program-program Kepatihan diharapkan dapat disinergikan dengan Pemerintah Kota Bontang.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Ia berharap komunikasi dan kerja sama antara Kepatihan Adat Besar Kutai dan Pemkot Bontang dapat semakin diperkuat, sehingga berbagai program yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat dapat berjalan seiring dengan kebijakan pemerintah daerah.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>\u201cKepatihan mungkin dengan upaya pendekatan-pendekatan pada kepentingan yang ada ini, insyaallah bisa menyatukan heterogenitas supaya tidak terjadi proses konflik yang cukup mendalam,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Menurut Awang, perjalanan delapan tahun Kepatihan Adat Besar Kutai tidak dapat dilepaskan dari perkembangan kehidupan masyarakat Kota Bontang.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>\u201cDelapan tahun Kepatihan hari ini, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau telah mewarnai keberadaan Kota Bontang,\u201d katanya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BONTANG \u2013 Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni mengajak masyarakat menjaga keseimbangan antara mempertahankan jati diri dan kemampuan beradaptasi di tengah derasnya arus modernisasi, industrialisasi, serta perubahan zaman. &nbsp; Pesan tersebut disampaikan Neni dalam acara Hari Jadi ke-8 Kepatihan Adat Besar Kutai Kalimantan Timur yang digelar di Auditorium 3D, Kota Bontang, Jumat (11\/9\/2026) malam. &nbsp; Neni [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":5897,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4,145],"tags":[],"class_list":["post-5896","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-bontang"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5896","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5896"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5896\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5899,"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5896\/revisions\/5899"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5897"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5896"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5896"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kosakata.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5896"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}