Bontang – Realisasi investasi di Kota Bontang sepanjang 2024 menunjukkan tren positif, namun juga menghadapi sejumlah tantangan dalam menarik investor besar. Sektor industri kimia dasar, barang kimia, dan farmasi mendominasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), sementara sektor industri makanan menjadi andalan Penanaman Modal Asing (PMA).
Kepala Bidang Penanaman Modal Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Bontang, Karel, menjelaskan bahwa meskipun investasi di sektor kimia mencapai Rp 2,1 triliun dan menjadi penyumbang terbesar PMDN, masih terdapat kebutuhan untuk diversifikasi dan memperkuat sektor lain guna menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih seimbang.
“Industri kimia menjadi tulang punggung investasi lokal, terutama dengan pembangunan pabrik soda ash oleh PT Pupuk Kalimantan Timur. Namun, kami juga mendorong pengembangan sektor lain agar tidak bergantung pada satu industri saja,” ujarnya.
Selain industri kimia, sektor jasa, perumahan, perdagangan, dan konstruksi juga berkontribusi terhadap investasi PMDN meski nilainya lebih kecil, dengan potensi yang terus digarap agar lebih maksimal.
Di sisi Penanaman Modal Asing, industri makanan menempati posisi teratas dengan investasi Rp 35 miliar, disusul oleh sektor industri kimia dan jasa lainnya. Namun, angka ini masih relatif kecil jika dibandingkan dengan kebutuhan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah.
Ia menyadari bahwa Bontang masih perlu meningkatkan daya tarik bagi investor besar, khususnya asing, agar dapat memperluas basis investasi dan menciptakan lebih banyak lapangan kerja.
“Kami menghadapi tantangan dalam menarik investasi besar, tetapi upaya memperbaiki iklim investasi dan penyederhanaan perizinan terus dilakukan,” katanya.
Pun pihaknya juga tengah mengoptimalkan pengembangan kawasan industri Bontang Lestari dan pengembangan industri turunan dari soda ash sebagai langkah strategis untuk memperkuat daya saing daerah.
“Kami berharap dengan master plan kawasan industri yang matang, investor baik dalam maupun luar negeri akan semakin tertarik berinvestasi di Bontang,” pungkas Karel.

