Bontang – Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, melontarkan pernyataan kontroversial terkait apa yang ia sebut sebagai krisis identitas di kalangan pelajar. Ia meminta pihak sekolah—khususnya para guru—untuk mendata dan tidak membiarkan siswa laki-laki yang menunjukkan sifat kewanitaan atau bersikap “gemulai”.
Pernyataan itu disampaikannya saat menghadiri Peringatan Bulan Bahasa di SMP Negeri 7 Bontang, sebagaimana dikutip dari unggahan resmi Prokompim Bontang di Instagram.
“Saya ini sangat prihatin. Tolong didata, jangan dibiarkan. Karena ini kayak virus, bisa menular, ikut-ikutan. Jangan dinormalisasi,” ujar Neni dalam sambutannya.
Neni menekankan bahwa guru tidak hanya bertugas mengajar, tetapi juga bertanggung jawab mengawasi perkembangan karakter siswa. Ia meminta agar pelajar yang dianggap mengalami penyimpangan identitas “dikembalikan kepada jati dirinya”.
“Guru adalah pahlawan yang sangat mulia. Guru tidak boleh memperlihatkan hal-hal yang tidak baik kepada anak muridnya,” katanya.

Dalam pidatonya, Neni turut mengaitkan isu karakter dengan tantangan era digital. Ia menyinggung posisi Bontang sebagai daerah dengan indeks literasi tinggi dan tingkat penggunaan internet yang meluas. Menurutnya, tingginya akses informasi harus diimbangi dengan pembentukan akhlak yang kuat.
“Kalau kita sudah berakhlak mulia, Insyaallah tidak akan terganggu oleh zaman seperti sekarang. Tanpa benteng akhlak, kita bisa terpengaruh oleh hal-hal yang akan menghancurkan masa depan kita,” ujar Neni.
Peringatan Bulan Bahasa juga dirangkai dengan berbagai pertunjukan budaya Nusantara. Dalam kesempatan yang sama, Neni kembali menegaskan komitmen Pemkot Bontang terhadap dunia pendidikan.
Ia memaparkan sejumlah program, di antaranya bantuan 1.600 tablet bagi siswa kelas IX SMP serta 28.000 paket seragam lengkap—mulai dari baju, sepatu, hingga tas—bagi seluruh siswa SD dan SMP, baik negeri maupun swasta.

