SAMARINDA – Permasalahan stunting di Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi sorotan serius, dengan angka yang terus meningkat menurut data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021 dan 2022 dari Kementerian Kesehatan.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, Puji Setyowati, menyoroti urgensi edukasi menyeluruh dan peningkatan gizi anak sebagai kunci dalam menangani masalah ini.
Pertama-tama, Puji Setyowati menegaskan bahwa edukasi menyeluruh terhadap masyarakat adalah hal yang krusial dalam upaya mengentaskan stunting. Ia mendukung penggunaan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) untuk pemantauan status kesehatan baru, memastikan pencatatan yang lebih detail dan efektif.
“Tidak boleh ada lagi warga yang terlewat dari edukasi stunting. Pemantauan harus ketat, terutama terhadap pendatang baru yang memasuki wilayah Kaltim,” ungkapnya.
Selanjutnya, Puji Setyowati menyoroti korelasi antara stunting dan kekurangan gizi pada anak. Ia menekankan perlunya langkah proaktif pemerintah dalam mengidentifikasi gizi anak lebih awal sebagai cara efektif menekan angka stunting. Selain itu, ia mengajak untuk meningkatkan fasilitas kesehatan dan layanan perawatan kesehatan di Kaltim, khususnya dalam perawatan ibu hamil.
“Kasus kematian ibu hamil tanpa surat-surat adalah situasi yang harus segera diatasi. Perlu peningkatan fasilitas kesehatan, terutama untuk perawatan ibu hamil di Samarinda,” tegasnya.
Puji Setyowati menegaskan bahwa penanganan stunting adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat. Ia menekankan perlunya implementasi perbaikan fasilitas kesehatan secara menyeluruh untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk Kaltim.
Dengan fokus pada edukasi, identifikasi gizi anak, dan perbaikan fasilitas kesehatan, Puji Setyowati memandang bahwa langkah-langkah ini menjadi kunci utama dalam mengatasi permasalahan stunting yang semakin memprihatinkan di Kalimantan Timur. (ADV DPRD KALTIM)

