BONTANG – Pemerintah Kota Bontang tengah mempertimbangkan usulan peningkatan status Puskesmas Bontang Lestari menjadi rumah sakit. Walikota Bontang, Neni Moerniaeni, menyatakan dukungannya terhadap pengembangan fasilitas tersebut, bahkan mendorong agar statusnya langsung ditingkatkan ke tipe C, bukan tipe D seperti yang sempat diusulkan dalam pembahasan Panitia Khusus (Pansus) Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ).
“Kalau bisa jangan tipe D, tapi langsung tipe C,” ujar Neni, Senin (22/4/2025).
Ia menjelaskan, kebutuhan rumah sakit di wilayah Bontang Lestari semakin mendesak seiring dengan penetapan kawasan industri baru di wilayah tersebut. Selain itu, populasi yang terus meningkat dan risiko kecelakaan kerja di lingkungan industri turut menjadi pertimbangan utama.
“Kita sudah tetapkan kawasan industri baru, artinya fasilitas pendukung harus kita siapkan. Eksiden itu pasti ada. Jadi rumah sakit sangat dibutuhkan,” tegasnya.
Menurut Neni, peningkatan status puskesmas juga menjadi bagian dari rencana besar menjadikan Bontang Lestari sebagai kota satelit. Populasi kawasan ini sudah mencapai sekitar 8.000 jiwa dan terus bertumbuh karena keberadaan industri dan perusahaan besar.
“Di Bontang Lestari sekarang penduduknya sudah hampir 8 ribuan. Kita siapkan juga Damkar, pasar, peningkatan jalan, dan nanti rumah sakit. Semua harus terencana dan masuk dalam RPJMD,” jelasnya.
Ia juga menyebutkan bahwa pemerintah akan memaksimalkan lahan-lahan yang sudah dibebaskan untuk mendukung pembangunan. Sejumlah fasilitas seperti kantor Dinas Perhubungan sebelumnya sudah dibangun tanpa harus membebaskan lahan baru, dan prinsip tersebut akan diterapkan untuk proyek lain, termasuk rumah sakit.
“Lahan kita banyak, tinggal dimanfaatkan saja. Tidak harus beli lahan baru, kita maksimalkan yang sudah ada,” ujarnya.
Rencana peningkatan status Puskesmas Bontang Lestari menjadi rumah sakit ini akan dimasukkan ke dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) sebagai bagian dari program prioritas lima tahun ke depan.
“Pembangunan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Harus masuk RPJMD dulu, lalu direncanakan bertahap,” tutupnya.

