Bontang – Kota Bontang semakin menunjukkan potensi besar sebagai kota industri dengan masuknya investasi pabrik soda ash senilai Rp3,3 triliun. Proyek strategis ini diyakini mampu memberikan kontribusi signifikan bagi pertumbuhan ekonomi daerah, membuka lapangan kerja baru, serta memberdayakan pelaku usaha lokal.
Kepala Bidang Penanaman Modal Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Bontang, Karel, menyampaikan bahwa investasi besar ini tidak hanya memperkuat sektor industri kimia di Bontang, tapi juga akan memacu geliat ekonomi masyarakat.
“Investasi soda ash sebesar Rp3,3 triliun ini menjadi bukti bahwa Bontang semakin diminati investor. Proyek ini akan membawa dampak besar, mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga penguatan ekonomi lokal,” ujarnya, Senin (2/6/2025).
Menurut Karel, pada tahap awal pembangunan pabrik, diperkirakan sekitar 800 tenaga kerja lokal akan diserap. Jumlah ini diprediksi bertambah seiring dengan kemajuan proyek dan mulai beroperasinya pabrik.
“Rekrutmen tenaga kerja lokal menjadi prioritas kami. Awalnya sekitar 800 orang, namun bisa meningkat sesuai kebutuhan operasional pabrik nantinya,” jelasnya.
Selain itu, Karel mengungkapkan perusahaan pengelola pabrik soda ash berkomitmen mengalokasikan 1 persen dari total investasi untuk kontribusi pembangunan daerah. Dana tersebut akan digunakan untuk pengembangan infrastruktur, program sosial, dan pemberdayaan UMKM di Bontang.
“Dari total investasi Rp3,3 triliun, 1 persennya akan dikembalikan ke daerah. Ini peluang besar untuk mendukung penguatan ekonomi masyarakat, terutama UMKM dan pembangunan infrastruktur,” kata dia.
Ia pun optimistis kehadiran pabrik soda ash akan memperkuat posisi Bontang sebagai pusat industri kimia nasional. Sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi kota ini.
“Kami yakin investasi ini membawa dampak positif luas, baik bagi sektor industri maupun kesejahteraan masyarakat. Ini langkah penting bagi Bontang untuk terus maju,” tutupnya.

