BONTANG — Data terbaru Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bontang menunjukkan angka kejadian bencana yang cukup tinggi sepanjang September 2025. Dalam kurun waktu satu bulan, tercatat 15 kejadian bencana melanda sejumlah titik di wilayah Kota Taman.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Bontang, Eko Mashudi, mengungkapkan bahwa sepanjang September terjadi dua kali banjir, tujuh kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta enam kejadian longsor. Titik longsor tersebar di beberapa kelurahan, seperti Tanjung Laut di Bontang Selatan; Gunung Elai di Bontang Utara; serta Belimbing dan Telihan di Bontang Barat.
“Ini memang dipengaruhi kondisi iklim global. Namun, kunci utama tetap pada edukasi, informasi, dan ajakan kepada masyarakat agar meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana,” ujar Eko Mashudi

Sebagai langkah mitigasi menghadapi potensi bencana, BPBD Bontang mengimbau warga untuk menyimpan dokumen berharga di tempat aman dan mudah dibawa saat kondisi darurat. Selain itu, masyarakat diminta meningkatkan kepedulian lingkungan melalui kegiatan gotong royong membersihkan drainase, guna meminimalisir risiko banjir.
Eko juga menyoroti pentingnya pengawasan bersama terhadap potensi karhutla, terutama di musim kemarau yang rentan memicu titik api.
Untuk pemerintah dan pihak terkait, BPBD meminta agar koordinasi antar-Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terus ditingkatkan, sebagai bentuk kesiapan menuju status siaga darurat apabila bencana kembali terjadi.
“Kesiapsiagaan harus dibangun sejak dini. Dengan koordinasi yang kuat, kita bisa mempercepat respons di lapangan saat terjadi bencana,” kata Eko.
Dengan tren bencana yang meningkat, BPBD mengingatkan bahwa partisipasi aktif masyarakat menjadi faktor penting dalam menekan risiko bencana di Kota Bontang yang kian rentan terhadap perubahan iklim ekstrem.

