Bontang – Kesehatan jantung dinilai sebagai fondasi utama dalam menunjang kualitas hidup masyarakat. Di tengah tingginya angka penyakit jantung yang masih menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di Indonesia, peran Yayasan Jantung Indonesia (YJI) dinilai semakin strategis, tidak hanya sebagai lembaga sosial, tetapi juga sebagai penggerak edukasi dan pencegahan.
Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris menekankan bahwa YJI perlu mengambil peran lebih luas sebagai pelopor dalam penyuluhan kesehatan jantung bagi seluruh lapisan masyarakat, mulai dari usia dini hingga lanjut usia.
“Yayasan Jantung Indonesia tidak boleh hanya dipandang sebagai lembaga sosial biasa, tetapi harus menjadi motor penggerak edukasi, pencegahan, dan penyuluhan kesehatan jantung bagi masyarakat,” ucapnya, Rabu (6/5/2026).
Peran tersebut dinilai sejalan dengan visi pembangunan Kota Bontang sebagai kota industri dan jasa yang maju, sejahtera, dan berkelanjutan. Salah satu misi utama dalam visi tersebut adalah mendorong transformasi sosial menuju sumber daya manusia (SDM) yang berdaya saing.
Menurutnya, kualitas SDM tidak dapat dipisahkan dari kondisi kesehatan masyarakat. SDM yang unggul, disebutkan, tidak akan terwujud apabila kondisi fisik masyarakat masih rentan terhadap penyakit.
“SDM yang berdaya saing tidak mungkin lahir dari masyarakat yang kondisi kesehatannya lemah. Karena itu, aspek kesehatan harus menjadi prioritas,” lanjut pernyataan tersebut.
Di sektor kesehatan, Pemerintah Kota Bontang juga mengklaim telah menunjukkan kemajuan signifikan, salah satunya melalui penurunan angka prevalensi stunting dari 27,4 persen pada 2023 menjadi 17,44 persen.
Selain itu, pemerintah daerah terus berupaya meningkatkan infrastruktur layanan kesehatan, termasuk pemenuhan tenaga medis secara proporsional agar pelayanan dasar dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat.
Meski demikian, pemerintah menilai bahwa pembangunan infrastruktur saja tidak cukup. Diperlukan pendekatan promotif dan preventif yang lebih masif agar upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat dapat berjalan optimal.
“Pembangunan infrastruktur dan pemenuhan tenaga medis harus diimbangi dengan upaya promotif dan preventif agar hasilnya lebih efektif dan berkelanjutan,” tutupnya.

