No Result
View All Result
  • Login
kosakata.co
Advertisement
  • HOME
  • BERITA
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • POLITIK
    • HUKUM & KRIMINAL
    • EKONOMI & BISNIS
  • OLAHRAGA
  • ADVERTORIAL
  • GAYA HIDUP
  • GRAFIS
  • VIDEO
  • RAGAM
No Result
View All Result
  • Login
kosakata.co
No Result
View All Result

Dugaan Keracunan MBG di Bontang Jadi Alarm Keamanan Pangan, DPRD Minta Investigasi Total

Ahmad Ahmad by Ahmad Ahmad
Agustus 12, 2026
in ADVERTORIAL, BERITA, DPRD Bontang
0
Dugaan Keracunan MBG di Bontang Jadi Alarm Keamanan Pangan, DPRD Minta Investigasi Total

Anggota DPRD Kota Bontang dari Fraksi PKB, Bonnie Sukardi,

3.2k
SHARES
4.1k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Bontang – Kasus dugaan keracunan makanan bergizi gratis (MBG) yang dialami sejumlah siswa di Bontang selatan menjadi sorotan terhadap aspek keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG di Kota Bontang.

Insiden tersebut dinilai tidak cukup hanya diselesaikan dengan menghentikan sementara distribusi makanan. Penelusuran menyeluruh terhadap seluruh rantai penyediaan MBG, mulai dari bahan baku hingga makanan diterima siswa, dinilai perlu dilakukan untuk memastikan sumber persoalan sekaligus mencegah kejadian serupa terulang.

Anggota DPRD Kota Bontang dari Fraksi PKB, Bonnie Sukardi, meminta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memberikan penjelasan terbuka mengenai insiden tersebut. Menurutnya, masyarakat, terutama orang tua siswa, berhak mengetahui penyebab gangguan kesehatan yang dialami peserta didik.

“Yang paling penting sekarang adalah memastikan dulu apa penyebabnya. SPPG harus terbuka, apakah ada prosedur yang terlewat atau ada persoalan lain dalam proses penyediaan makanan,” ujar Bonnie saat dikonfirmasi, Rabu (12/8/2026).

Menurut Bonnie, keterbukaan menjadi bagian penting dalam proses evaluasi. Penyebab kejadian harus diketahui secara jelas agar langkah perbaikan tidak hanya bersifat sementara, tetapi menyasar titik persoalan yang sebenarnya.

Ia pun mendukung apabila distribusi MBG dihentikan sementara selama proses pemeriksaan berlangsung. Menurutnya, penghentian tersebut dapat memberikan ruang bagi pihak terkait untuk melakukan investigasi secara menyeluruh tanpa mengabaikan aspek keselamatan siswa.

“Kalau memang diperlukan, distribusi sementara dihentikan dulu sampai pemeriksaan selesai. Jangan sampai program tetap berjalan, sementara persoalan yang menyebabkan siswa sakit belum benar-benar diketahui,” tegasnya.

Pemeriksaan, lanjut dia, idealnya mencakup seluruh tahapan penyediaan makanan. Mulai dari pemilihan bahan, kebersihan tempat produksi, proses pengolahan, pengemasan, penyimpanan, hingga distribusi ke sekolah perlu dievaluasi.

Bonnie juga menyoroti pentingnya bentuk pertanggungjawaban apabila hasil pemeriksaan menemukan adanya kelalaian dari pihak penyedia. Menurutnya, tanggung jawab tidak boleh berhenti pada penyampaian klarifikasi kepada publik.

“Kalau dari hasil pemeriksaan ditemukan kelalaian, tentu harus ada tanggung jawab kepada siswa yang terdampak. Jangan sampai korban menanggung sendiri biaya pengobatan akibat kejadian ini,” lanjut Bonnie.

Bonnie menilai program MBG pada dasarnya memiliki tujuan yang baik karena ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak sekolah. Namun, tujuan tersebut harus berjalan beriringan dengan jaminan keamanan pangan.

“Program MBG ini tujuannya baik, tetapi makanan yang diberikan kepada anak-anak harus dipastikan aman. Jangan hanya mengejar pemenuhan gizi, sementara standar keamanan pangannya tidak menjadi perhatian utama,” pungkasnya.

Pasalnya, makanan dalam program tersebut dikonsumsi oleh siswa dalam jumlah besar. Kesalahan pada satu tahapan saja berpotensi berdampak kepada banyak penerima manfaat.

Di sisi lain, Bonnie menjelaskan bahwa pengaturan teknis pelaksanaan program MBG berada dalam kewenangan Badan Gizi Nasional (BGN). Meski demikian, ia berharap kejadian tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program.

Evaluasi tersebut dinilai perlu diarahkan tidak hanya untuk mencari penyebab insiden, tetapi juga menguji efektivitas sistem pengawasan yang berjalan selama ini. Standar keamanan pangan harus dipastikan diterapkan secara konsisten di setiap SPPG. Sebab, keberhasilan MBG tidak hanya diukur dari terpenuhinya kebutuhan gizi siswa, tetapi juga dari sejauh mana makanan yang diberikan benar-benar aman untuk dikonsumsi.

Previous Post

Bonnie Tegaskan RTRW Bontang Harus Jaga Keseimbangan Pembangunan dan Lingkungan

Next Post

Patroli di Malam Libur, Satpol PP Sesar Tempat-tempat Gelap

Next Post
Patroli di Malam Libur, Satpol PP Sesar Tempat-tempat Gelap

Patroli di Malam Libur, Satpol PP Sesar Tempat-tempat Gelap

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

Pos-pos Terbaru

  • Perkuat Budaya Inovasi, PKT Borong Predikat Tertinggi APQO 2026
  • Gen Z dan Childfree : Apakah ini Egois atau Rasional ?
  • Perbakin Bontang Gelar Bontang Open 2026, Peserta Datang dari Sejumlah Daerah di Indonesia
  • Turnamen Domino Orado Panglima Cup Diikuti 64 Pasang Peserta, Ini Pesan Wakil Walikota Bontang
  • Sidak SPPG Bontang, Pemkot Larang Penggunaan Frozen Food untuk Menu MBG

Komentar Terbaru

    • Tentang Kami
    • Susunan Redaksi
    • Pedoman Media Saber

    © 2021 kosakata.co

    No Result
    View All Result
    • HOME
    • BERITA
      • NASIONAL
      • INTERNASIONAL
      • POLITIK
      • HUKUM & KRIMINAL
      • EKONOMI & BISNIS
    • OLAHRAGA
    • ADVERTORIAL
    • GAYA HIDUP
    • GRAFIS
    • VIDEO
    • RAGAM

    © 2021 kosakata.co

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Create New Account!

    Fill the forms below to register

    All fields are required. Log In

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In

    Add New Playlist