Bontang — Pelatihan pembuatan hantaran yang digelar Tempat Uji Kompetensi (TUK) Diamort bekerja sama dengan Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Bontang resmi berakhir dan memasuki tahap sertifikasi. Program yang berlangsung sejak 6 hingga 25 November 2025 itu ditutup dengan uji kompetensi pada 26 November 2025.
Pelatihan ini menjadi salah satu program pengembangan keterampilan masyarakat berbasis ekonomi kreatif, dengan sasaran mencetak pelaku usaha baru yang mampu memproduksi hantaran, mahar, hingga suvenir yang bernilai estetika.
Direktur TUK Diamort, Luhur Budi Rahayuningsih, mengatakan program ini tidak hanya memberikan kemampuan teknis tetapi juga pemahaman mengenai nilai budaya lokal dalam desain.
“Selain keterampilan teknis, peserta juga belajar karakter desain khas daerah agar produk hantaran memiliki identitas dan nilai budaya,” ujarnya saat ditemui usai pelaksanaan uji kompetensi, Rabu, 26 November 2025.
Menurutnya, usaha di bidang hantaran memiliki potensi besar dikembangkan menjadi usaha rumahan karena modal yang diperlukan relatif terjangkau serta fleksibel dikerjakan dari rumah.
“Usaha hantaran tidak membutuhkan modal besar dan bisa dikerjakan dari mana saja. Ini cocok menjadi peluang usaha baru bagi masyarakat,” kata Luhur.
Instruktur pelatihan, Lutfiana Soliha, menambahkan selama 20 hari peserta dikenalkan pada ragam pembuatan hantaran, mulai dari konsep dasar hingga teknik dekorasi yang dapat diterapkan dalam berbagai keperluan.
“Peserta belajar membuat hantaran pernikahan, bingkisan untuk orang sakit, suvenir, hingga rangkaian mahar. Semua materi diberikan bertahap sampai mereka memahami prosesnya,” kata Lutfiana.
Pelatihan ini juga memberikan ruang praktik intensif agar peserta siap mengikuti uji kompetensi sekaligus menerapkan keterampilan tersebut dalam usaha mandiri.
Salah satu peserta, Nurul Fajriya, mengaku pelatihan ini menjadi pengalaman berharga karena memberikan keterampilan baru yang sebelumnya belum pernah ia tekuni.
“Karena pelatihan ini dari pemerintah, saya merasa sayang kalau tidak dimanfaatkan. Apalagi saya belum pernah mencoba hantaran sebelumnya,” ujar Nurul.
Nurul mengatakan pembelajaran berlangsung intensif namun tetap nyaman karena instruktur yang terbuka dalam berbagi ilmu.
“Instrukturnya tidak pelit ilmu. Suasananya santai, jadi belajarnya nyaman. Tiba-tiba pelatihannya sudah selesai saja,” ucapnya.
Ia berharap ilmu yang diperoleh tidak berhenti pada pelatihan dan dapat diterapkan menjadi sumber penghasilan.
“Pengennya nanti bisa membuka usaha sendiri. Insyaallah dasar-dasarnya sudah bisa,” kata Nurul.
Program pelatihan dan sertifikasi ini diharapkan menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kompetensi warga serta memperkuat sektor ekonomi kreatif di Kota Bontang.

