BONTANG – Selain mengapresiasi penurunan angka stunting di Kota Bontang menjadi 14,05 persen, Anggota Komisi A DPRD Kota Bontang, Arfian Arsyad, juga menyoroti pentingnya upaya pencegahan pernikahan dini sebagai bagian dari strategi menekan kasus stunting.
Menurutnya, salah satu penyebab lahirnya anak yang berisiko mengalami stunting adalah tingginya angka pernikahan usia dini. Oleh sebab itu, edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya kesiapan usia menikah harus terus diperkuat.
Ia mengatakan, pemerintah selama ini tidak hanya fokus pada penanganan balita yang mengalami stunting, tetapi juga berupaya memutus mata rantai penyebabnya melalui berbagai program edukasi dan pendampingan keluarga.
“Selama ini pemerintah mengeluarkan segala cara untuk mengurangi stunting, seluruh OPD juga diminta ikut terlibat,” ujarnya, Selasa (21/7/2026).
Dirinya menjelaskan, intervensi yang dilakukan pemerintah mencakup peningkatan kualitas sanitasi, penyediaan air bersih, edukasi pola asuh anak, hingga penyuluhan kepada calon orang tua mengenai pentingnya pemenuhan gizi sejak masa kehamilan.
Menurutnya, keberhasilan menurunkan angka stunting menunjukkan bahwa pendekatan pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan hanya melakukan penanganan ketika kasus sudah terjadi. Karena itu, edukasi terhadap remaja dan calon pasangan usia subur perlu terus ditingkatkan.
Ia menambahkan, kesadaran masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga keberhasilan program pemerintah. Orang tua harus memahami pentingnya pemenuhan gizi, pemeriksaan kesehatan secara rutin, serta pemberian pola asuh yang baik kepada anak.
“Meski angka stunting mengalami penurunan, pekerjaan belum selesai. Masih diperlukan komitmen seluruh pihak agar tren positif tersebut terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya,” terangnya.
Ia berharap pemerintah bersama seluruh elemen masyarakat terus memperkuat langkah pencegahan sejak hulu sehingga target zero stunting dapat diwujudkan dan kualitas generasi muda Bontang semakin meningkat. (Rae)

