BONTANG – Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bontang Selatan 5 di Berbas Tengah 3, Jalan Gajah Mada, Selasa (11/8/2026). Sidak dilakukan menyusul sejumlah siswa SMP Vidatra mengalami mual hingga muntah setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam sidak tersebut, Agus Haris meninjau langsung seluruh tahapan pengelolaan makanan, mulai dari penerimaan bahan baku, penyimpanan, proses memasak hingga pengemasan sebelum didistribusikan kepada penerima manfaat.
Ia memberikan sejumlah catatan, khususnya pada proses penerimaan dan penyimpanan bahan baku. Menurutnya, tempat penyimpanan bahan kering yang menggunakan papan atau plywood perlu dilapisi plastik tebal agar lebih mudah dibersihkan dan tidak menjadi tempat menempelnya debu.
“Tempat penyimpanan kering-kering itu jangan papan atau plywood. Harus ditutup plastik yang tebal. Kalau plywood banyak pori-porinya, banyak lubangnya,” ujar Agus.
Selain kondisi tempat penyimpanan, Agus menekankan pentingnya pemeriksaan bahan baku sejak awal diterima. Menurutnya, kebersihan dapur tidak cukup jika kualitas bahan yang masuk tidak diperiksa secara teliti.
Ia mencontohkan buah-buahan seperti jeruk yang harus diseleksi satu per satu sebelum digunakan. Hal serupa juga berlaku untuk bahan baku ayam yang diterima dalam kondisi sudah dipotong.
“Kalau dari bahan dasar dan bahan awalnya tidak diperiksa dan diteliti dengan baik, percuma. Misalnya jeruk, dari ratusan itu tidak boleh langsung diangkut semua, harus dipilih satu-satu. Termasuk ayam,” tegasnya.
Tak hanya itu, ia juga menilai ruang penerimaan bahan baku di SPPG tersebut masih belum ideal untuk melayani produksi dalam jumlah besar. Dengan kapasitas pelayanan sekitar 2.000 penerima manfaat, ruang yang terbatas dinilai dapat menyulitkan proses pemeriksaan dan pencatatan bahan.
Kendati demikian, Agus menyebut proses pengolahan makanan di bagian dalam dapur, mulai dari memasak hingga pengeringan, secara umum telah sesuai standar. Catatan utama justru berada pada tahap awal, terutama kehati-hatian saat menerima bahan baku.
“Kalau sampai di dalam, semua prosesnya sampai tempat masak, pengeringan, saya lihat sudah sesuai standar. Kehati-hatian kepala dapur pada saat menerima bahan awal itu yang menjadi catatan kami setelah melihat langsung lokasi,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia juga meminta kepala SPPG tidak hanya mengandalkan pemantauan melalui kamera pengawas atau CCTV. Kepala dapur diminta terlibat langsung mengawasi bahan sejak pertama kali diterima hingga melalui seluruh tahapan pengolahan.
“Saya selalu sampaikan, kepala SPPG tidak boleh memantau dari CCTV. Harus melihat bahan masuk pertama sampai proses tahapannya. Setelah didistribusi, baru agak tenang,” ungkapnya.

