No Result
View All Result
  • Login
kosakata.co
Advertisement
  • HOME
  • BERITA
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • POLITIK
    • HUKUM & KRIMINAL
    • EKONOMI & BISNIS
  • OLAHRAGA
  • ADVERTORIAL
  • GAYA HIDUP
  • GRAFIS
  • VIDEO
  • RAGAM
No Result
View All Result
  • Login
kosakata.co
No Result
View All Result

Hari Jadi ke-8 Kepatihan Adat Besar Kutai, Dorong Sinergi dan Kerukunan di Bontang

Ahmad Ahmad by Ahmad Ahmad
September 12, 2026
in BERITA, Bontang
0
Hari Jadi ke-8 Kepatihan Adat Besar Kutai, Dorong Sinergi dan Kerukunan di Bontang
1.3k
SHARES
2.8k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

BONTANG – Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni mengajak masyarakat menjaga keseimbangan antara mempertahankan jati diri dan kemampuan beradaptasi di tengah derasnya arus modernisasi, industrialisasi, serta perubahan zaman.

 

Pesan tersebut disampaikan Neni dalam acara Hari Jadi ke-8 Kepatihan Adat Besar Kutai Kalimantan Timur yang digelar di Auditorium 3D, Kota Bontang, Jumat (11/9/2026) malam.

 

Neni mengatakan, perubahan zaman tidak semestinya membuat masyarakat kehilangan identitas. Menurut dia, masyarakat perlu memiliki keteguhan hati untuk menjaga nilai dan jati diri, sekaligus memiliki keberanian untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman.

 

“Di tengah derasnya arus modernisasi, pesatnya industrialisasi, hingga dinamika zaman yang terus bergerak, masyarakat Kutai memberikan dua keteladanan besar,” kata Neni.

 

Keteladanan pertama, kata dia, adalah keteguhan hati agar tidak mudah goyah menghadapi perubahan. Jati diri tetap perlu dijaga tanpa menghilangkan kemampuan untuk berkembang.

Sementara keteladanan kedua adalah keberanian beradaptasi. Masyarakat diharapkan mampu membuka diri, merangkul sesama, serta membangun kehidupan yang rukun dalam keberagaman.

 

Neni juga menekankan pentingnya nilai kearifan lokal dalam membangun kehidupan sosial di Kota Bontang. Salah satu nilai yang dinilainya penting adalah sikap saling menghormati dan memanusiakan manusia.

 

“Memanusiakan manusia di tanah ini, menghormati setiap jiwa yang berpijak dan berkarya,” ujarnya.

 

Ia menegaskan Kota Bontang harus menjadi rumah yang nyaman bagi seluruh masyarakat. Keberagaman tidak seharusnya menjadi alasan untuk membeda-bedakan seseorang berdasarkan latar belakang maupun kelas sosial.

 

“Karena kearifan lokal mengajarkan kita untuk menyatukan, bukan untuk mengotak-ngotakkan martabat dan manusia ke dalam strata, kasta atau kelas sosial,” kata Neni.

 

Menurutnya, perbedaan yang ada di Kota Bontang justru harus menjadi kekuatan dalam membangun masyarakat yang rukun, inklusif, dan harmonis.

 

 

 

Sementara itu, Dewan Majelis Kepatihan Adat Besar Kutai Kalimantan Timur, Ir Awang Yacoub Luthman, mengatakan usia ke-8 Kepatihan diharapkan tidak sekadar menjadi momentum peringatan perjalanan organisasi.

 

Menurutnya, bertambahnya usia harus diikuti dengan kontribusi yang memberikan nilai tambah bagi pemerintah dan masyarakat Kota Bontang.

 

“Dengan adanya usia yang bertambah, justru diusahakan memberikan nilai tambah juga buat Pemerintah Kota Bontang,” ujarnya.

 

Awang mengatakan Kepatihan Adat Besar Kutai memiliki peran dalam menjaga kebersamaan di tengah kondisi masyarakat Bontang yang heterogen. Keberagaman tersebut, menurut dia, perlu dikelola melalui pendekatan yang tepat agar menjadi kekuatan bersama dan tidak berkembang menjadi konflik.

 

“Tadi sudah saya sampaikan bahwa Kutai itu bukan suku, bahwa Kutai itu adalah satu bangsa,” katanya.

 

Memasuki usia ke-8, ia menilai keberadaan Kepatihan Adat Besar Kutai telah menjadi bagian dari perjalanan sosial Kota Bontang. Karena itu, program-program Kepatihan diharapkan dapat disinergikan dengan Pemerintah Kota Bontang.

 

Ia berharap komunikasi dan kerja sama antara Kepatihan Adat Besar Kutai dan Pemkot Bontang dapat semakin diperkuat, sehingga berbagai program yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat dapat berjalan seiring dengan kebijakan pemerintah daerah.

 

“Kepatihan mungkin dengan upaya pendekatan-pendekatan pada kepentingan yang ada ini, insyaallah bisa menyatukan heterogenitas supaya tidak terjadi proses konflik yang cukup mendalam,” ujarnya.

 

Menurut Awang, perjalanan delapan tahun Kepatihan Adat Besar Kutai tidak dapat dilepaskan dari perkembangan kehidupan masyarakat Kota Bontang.

 

“Delapan tahun Kepatihan hari ini, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau telah mewarnai keberadaan Kota Bontang,” katanya.

 

 

 

Previous Post

Pelatihan Hair Style di Bontang, 28 Peserta Belajar Penataan dan Perawatan Rambut

Next Post

Kepatihan Adat Besar Kutai Dorong Kampung Sidrap Masuk Bontang, Peta Lama Jadi Dasar

Next Post
Kepatihan Adat Besar Kutai Dorong Kampung Sidrap Masuk Bontang, Peta Lama Jadi Dasar

Kepatihan Adat Besar Kutai Dorong Kampung Sidrap Masuk Bontang, Peta Lama Jadi Dasar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

Pos-pos Terbaru

  • Kepatihan Adat Besar Kutai Dorong Kampung Sidrap Masuk Bontang, Peta Lama Jadi Dasar
  • Hari Jadi ke-8 Kepatihan Adat Besar Kutai, Dorong Sinergi dan Kerukunan di Bontang
  • Pelatihan Hair Style di Bontang, 28 Peserta Belajar Penataan dan Perawatan Rambut
  • Sah, Gus Kikin Terpilih Jadi Ketua Umum PBNU 2026-2031
  • Wakil Wali Kota Bontang Dorong Paguyuban Perkuat SDM

Komentar Terbaru

    • Tentang Kami
    • Redaksi
    • Pedoman Media Saber

    © 2021 kosakata.co

    No Result
    View All Result
    • HOME
    • BERITA
      • NASIONAL
      • INTERNASIONAL
      • POLITIK
      • HUKUM & KRIMINAL
      • EKONOMI & BISNIS
    • OLAHRAGA
    • ADVERTORIAL
    • GAYA HIDUP
    • GRAFIS
    • VIDEO
    • RAGAM

    © 2021 kosakata.co

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Create New Account!

    Fill the forms below to register

    All fields are required. Log In

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In

    Add New Playlist