Bontang – Kisah Neira Kanjera, siswi SMP berusia 13 tahun yang hidupnya berubah setelah difitnah melalui video viral, menjadi sorotan lewat film “Cyberbullying” karya Syarif Fadillah. Terinspirasi dari beragam kasus nyata remaja Indonesia, film ini menggambarkan betapa keras dan kejamnya perundungan di dunia maya.
Potongan cerita tersebut diputar sebagai tontonan edukatif bagi para guru dari sejumlah sekolah di Kota Bontang. Kegiatan nonton bareng (nobar) digelar di XXI Citimall Bontang, Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Tanjung Laut, Kecamatan Bontang Selatan, Selasa, 28 Oktober 2025.
Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Keuangan Sekretariat Daerah (Setda) Kota Bontang, Rafidah, mengatakan perundungan digital kerap tak terlihat, tetapi meninggalkan luka mendalam. Dampak psikologis yang muncul dapat memengaruhi perkembangan anak dalam jangka panjang.
“Perundungan di ruang digital punya dampak yang tidak kasat mata. Namun mampu melukai batin, merusak rasa percaya diri, bahkan menghancurkan masa depan seorang anak,” ujar Rafidah saat memberikan sambutan.
Ia menilai pemutaran film seperti Cyberbullying merupakan langkah edukatif yang efektif untuk menguatkan pendidikan karakter di lingkungan sekolah. Melalui visualisasi cerita, guru dapat memahami cara kerja kekerasan digital dan pengaruhnya terhadap remaja.

Rafidah menegaskan bahwa cyberbullying bukan masalah sepele. Korban dapat mengalami trauma, depresi, hingga kehilangan motivasi belajar. Sementara pelaku juga bisa menghadapi konsekuensi panjang akibat jejak digital yang tidak mudah terhapus.
“Korban bisa trauma, depresi, sampai kehilangan motivasi belajar. Sedangkan untuk pelaku, masa depan terancam karena jejak digital tidak pernah hilang,” kata Rafidah.
Melalui kegiatan ini, Pemkot Bontang berharap para pendidik semakin memahami pentingnya menciptakan ruang belajar yang aman, baik secara fisik maupun digital. Edukasi mengenai etika bermedia sosial serta perlindungan terhadap siswa di dunia maya diharapkan dapat diperkuat di sekolah-sekolah.
Film Cyberbullying sendiri disebutkan akan kembali diputar dalam agenda serupa apabila permintaan dari sekolah meningkat, sebagai bagian dari upaya mencegah kekerasan digital di kalangan remaja Kota Bontang.

