Bontang – Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang menaruh perhatian serius terhadap meningkatnya dugaan kasus perundungan di ruang digital. Meski tak selalu tampak secara fisik, dampak cyberbullying dinilai jauh lebih membahayakan, terutama bagi anak dan remaja.
Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Keuangan Sekretariat Daerah (Setda) Kota Bontang, Rafidah, mengatakan kekerasan di dunia maya memberi tekanan psikologis yang tidak kasat mata, namun efeknya dapat menghancurkan rasa percaya diri korban.
“Cyber bullying punya dampak negatif yang tak main-main. Tindakan itu bisa melukai batin, merusak rasa percaya diri, bahkan mengganggu masa depan seseorang,” ujar Rafidah, Selasa, 28 Oktober 2025
Sebagai langkah mitigasi, Pemkot Bontang mendukung berbagai bentuk edukasi untuk mencegah perundungan siber di lingkungan pelajar. Salah satunya melalui pemutaran film “Cyberbullying” yang diikuti para guru dari sejumlah sekolah di kota itu.

Menurut Rafidah, penggunaan media film efektif untuk memperkuat pendidikan karakter dan meningkatkan pemahaman para pendidik mengenai risiko kekerasan digital yang semakin marak.
“Sosialisasi penguatan pendidikan karakter melalui film menjadi salah satu metode edukasi yang bisa dilakukan. Karena itu, kami mendukung kegiatan nonton bareng ini,” katanya.
Rafidah menegaskan bahwa cyberbullying bukan perkara sepele. Korban dapat mengalami trauma berkepanjangan, depresi, hingga hilangnya motivasi belajar. Sedangkan pelaku juga berpotensi menghadapi dampak jangka panjang akibat rekam jejak digital yang sulit dihapus.
“Korban bisa trauma, depresi, sampai kehilangan motivasi belajar. Sedangkan untuk pelaku, masa depan terancam karena jejak digital tidak pernah hilang,” tuturnya.
Pemkot Bontang berharap edukasi semacam ini terus diperluas untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, baik secara fisik maupun digital

