BONTANG – Layanan terapi autisme di Autis Center Kota Bontang dinilai masih berjalan, namun belum optimal karena masih terkendala kekurangan guru pendamping disabilitas.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni menegaskan bahwa kegiatan di Autis Center tetap berjalan dan menjadi salah satu layanan yang dimiliki daerah. Namun ia mengakui masih terdapat keterbatasan, terutama dari sisi tenaga pendamping.
“Layanannya tetap ada dan berjalan. Tapi memang kita akui masih ada kekurangan, terutama di tenaga pengajar,” jelasnya, Sabtu (2/5/2026).
Neni juga menyebut jika keluhan masyarakat terhadap layanan tersebut merupakan hal yang wajar dan akan menjadi bahan evaluasi pemerintah untuk perbaikan ke depan.
“Kalau ada keluhan tentu kita terima, dan itu akan menjadi bahan evaluasi agar layanan bisa terus ditingkatkan,” sebutnya.
Selain itu, fasilitas Autis Center Bontang merupakan salah satu pusat layanan disabilitas di Kalimantan Timur. Namun, efektivitas layanan masih terkendala jumlah tenaga pengajar dan terapis yang terbatas.
Meski demikian, pemerintah telah menyekolahkan sejumlah guru untuk mendapatkan sertifikasi sebagai pendamping disabilitas, termasuk guru-guru umum yang mengikuti pelatihan khusus. Saat ini, tercatat ada sekitar tujuh hingga delapan guru yang telah memiliki kompetensi tersebut.
“Kita sudah sekolahkan guru-guru, sekitar tujuh sampai delapan orang untuk mendapatkan sertifikat sebagai pendamping disabilitas. Jadi sebenarnya sudah ada tenaga yang disiapkan,” ucapnya.
Lebih lanjut, ia menyebut bahwa penguatan kelembagaan Autis Center telah diusulkan menjadi Unit Pelaksana Teknis (UPT) agar pengelolaannya lebih maksimal dan terstruktur.
“Sudah kita usulkan menjadi UPT, supaya pengelolaannya lebih baik dan layanan bisa lebih optimal,” tandasnya.

