BONTANG – Di tengah tekanan fiskal akibat penurunan drastis dana transfer pusat, Pemerintah Kota Bontang memilih mengalihkan strategi pengembangan sepak bola daerah.
Rencana ambisius untuk mengakuisisi klub profesional resmi ditunda, dan kini perhatian difokuskan pada pembinaan talenta lokal dari level paling dasar.
Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, menegaskan bahwa kondisi keuangan daerah saat ini belum cukup kuat untuk menopang biaya besar yang melekat pada kepemilikan klub sepak bola, baik dari sisi akuisisi maupun operasional jangka panjang.
“Sekarang kita hold dulu. Dana transfer turun lebih dari 50 persen, jadi kita tidak berani ambil risiko,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pembelian klub bukan sekadar soal biaya awal, tetapi juga keberlanjutan operasional.
“Jangan sampai kita beli klub misalnya 3 miliar, tapi operasionalnya tidak mampu kita biayai, akhirnya jadi sia-sia,” jelasnya.
Alih-alih memaksakan rencana tersebut, Pemkot Bontang kini memilih memperkuat fondasi sepak bola melalui kompetisi lokal. Salah satunya dengan menggelar turnamen Wali Kota Cup antar kelurahan yang diharapkan menjadi ruang lahirnya bibit-bibit muda potensial.
“Kita fokus dulu kompetisi lokal. Tahun ini akan ada Wali Kota Cup antar kelurahan,” kata Agus Haris.
Langkah ini dinilai lebih realistis sekaligus berkelanjutan, mengingat pembinaan atlet membutuhkan proses panjang dan investasi yang tidak sedikit.
“Pembinaan itu prosesnya panjang dan butuh biaya besar,” tambahnya.
Dengan memperkuat ekosistem dari bawah, pemerintah berharap dapat menciptakan regenerasi pemain yang nantinya mampu bersaing di tingkat yang lebih tinggi dan membawa nama daerah.
“Pendekatan ini juga melengkapi berbagai kompetisi lokal yang selama ini telah berjalan di Bontang, sehingga membentuk jalur pembinaan yang lebih terstruktur meski dalam keterbatasan anggaran,” tandasnya.
